Wanita pekerja malam berpotensi terkena kanker payudara. Cahaya lampu bisa menekan sekresi hormon melatonin, dan menaikkan jumlah estrogen
Anda punya kebiasaan begadang atau bekerja malam hari. Bekerja pada malam hari itu ternyata tak sekedar bisa membuat orang kekurangan darah, jika anda wanita, kerja malam bisa memicu timbulnya kanker payudara. Dua riset terbaru menunjukkan kaitan antara kerja malam dan penyakit mematikan tersebut.
Penelitian pertama dilakukan tim dari Harvard Medical School pada Juni 1988 sampai Mei 1998. Journal of the national center institut edisi rabu pekan salah menyebutkan. Penelitian yang dipimpin Franche laden itu melibatkan responden 78.662 wanita perawat diberbagai rumah sakit di Amerika Serikat dari jumlah tersebut 2.441 perawat terkena kanker payudara.
mereka mencoba menginginkan lamanya bekerja shift malam hari dengan jumlah perawat yang beresiko terkena kanker yang dicari adalah mereka yang bekerja malam minimal 3 kali sebulan. Laden dan koleganya membagi berdasarkan lama bekerja : 1-14 tahun, 15-29 tahun dan 30 tahun keatas. Hasilnya responden yang bekerja 1-14 tahun dan 15-29 tahun beresiko terkena kanker payudara mencapai 8%. Tapi mereka yang telah menginjak 36% resiko itu dilihat dari produksi hormonmelatonin meski persentase kenaikannya cukup kecil, secara statistik peningkatannya cukup signifikan, kata Laden
Hasil studi Laden diperkuat riset Scott Davis dan koleganya dari Fred Hanchin Son Cancer Research Center, Seatle, Amerika Serikat. Dalam Journal yang sama disebutkan, ia meneliti 793 wanita penderita kanker. kebiasaan tidur dan bangun di tengah malam mereka diteliti, ditengan sinar lampu. hasilnya, wanita bekerja malam menekuni profesinya lebih dari 3 tahun berpotensi kena kanker payudara 60%
Studi ini mengejutkan Davis. "Sekarang kita sudah mulai melihat banyak bukti pengaruh bekerja malam terhadap kesehatan," Ujar Davis. Namun, Davis belum puas terhadap studi tersebut ia memandang studi serupa perlu dilakukan lebih banyak lagi sebelum dokter mengusulkan agar jam kerja malam untuk wanita diubah.
Davis menduga peningkatan resiko itu berkaitan dengan produksi melatonin. Menurut dia, lampu pada malam hari menekan jumlah hormon melatonin. Melatonin diproduksi oleh kelenjar Pincal yang terletak didasar otak besar. Produksinya tergantung siklus tidur.
Melatonin berkaitan dengan hormon faktor penglihatan. Jika malam hari dipakai tidur, maka jumlah melatonin akan bertambah. Tetapi, kata Davis, sinar lampu membuat mata melek.
"Jika terekspose sinar lampu pada malam hari melatonin akan berkurang,"Ujar Davis.
Penurunan melatonin itu pada gilirannya akan mengubah metabolisme disejumlah organ tubuh, termasuk payudara. Dipayudara, melatonin akan mengubah perubahan hormon estrogen. Produksi estrogen nya meningkat, peningkatan hormon estrogen yang berlebihan bisa mendorong timbulnya kanker payudara.
Studi ini tentu saja bisa membuat was-was wanita yang kerap bekerja malam. Mereka mungkin akan berfikir 2 kali untuk menerima pekerjaan pada malam hari. Sebab, kanker payudara bukan tergolong penyakit enteng. Di Indonesia, kanker payudara merupakan penyakit kanker terbesar kedua yang diderita wanita dibawah kanker mulut rahim.
Menurut Didid : 1. Hindari bumi, ahli bedah kanker peyudara pada rumah sakit Dharma Nugraha, Jakarta Pusat, Prevalensi penderita kurang lebih 12 dari 100.000 wanita terkena kanker payudara setiap tahun. Namun ia menampik kaitan kerja malam dengan kanker payudara.
Mantan staf pengajar di fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu tak yakin bahwa perubahan jam kerja malam akan mengubah metabolisme hormon. Sebab, bila seseorang terbiasa bekerja malam, produksi hormon pun akan normal kembali.
"lagi pula, tak cuma melatonin yang rendah yang menyebabkan kanker. Melatonin berlebih juga bisa memicu kanker,: Ujarnya
Menurut Didid, resiko terkena kanker payudara tidak semata-mata ditimbulkan oleh peningkatan hormon estrogen.
Adapula faktor stress, wanita 35 tahun yang tak punya anak dan faktor keturunan, juga adanya gen
"Walau estrogennya bila tak ada Gen BRCA belum tentu wanita kena kanker katanya. Didit menilai studi tersebut terpirik dan belum dibuktikan di laboratorium




0 komentar:
Posting Komentar