Untuk menambah cita rasa, kini banyak produsen makanan yang menggunakan saus tomat. Lucunya, bahan utamanya terkadang bukan dari tomat, tapi ampas singkong (onggok) dibubuhi pengawet. Kalau berlebih pengawet itu bisa menimbulkan gangguan
Makan tanpa saus, mmm... rasanya kok seperti ada yang kurang. Coba saja mie bakso tidak diberi saus tomat, bagaimana rasanya? Pasti berkurang nikmat dan kelezatannya. Tengok saja diberbagai restoran Fastfood, yang menyajikan ayam dan kentang goreng, burger, selalu disediakan meja khusus untuk menaruh saus tomat dan sambal. Dan hampir setiap mereka yang makan tak melewatkan mengambil penyedap makanan ini. Terserah mau mengambil seberapa banyak, tak ada larangan dan tidak dikenakan biaya tambahan!
Tak cuma makanan gedongan yang akrab dengan saus tomat, makanan jajan murahan pun tak lepas dari sentuhan saus tomat. Pembuatan saus tomat secara pabrikan atau industri, umunya telah mengikuti prosedur yang di tetapkan Departemen Kesehatan. Lain halnya dengan pengolahan yang dilakukan sebagai usaha rumah tangga, terkadang sudah dikontrol. Sayangnya, hingga kini upaya penyuluhan terhadap produsen saus tomat kecil-kecilan kelas rumah tangga ini juga sangat minim.
Misalnya, dalam hal pengawet, adakalanya mereka menggunakan dalam jumlah berlebihan. Contohnya pemakaian asan benzoat, pemerintah hanya memperbolehkan 1 gram per kilogram bahan tapi nyatanya tetap saja banyak yang melanggar
Menurut pakar gizi senior, penyimpangan yang dilakukan produsen ini banyak yang dipicu oleh alasan ingin meningkatkan daya tahan saus tomat, awet, tidak cepat rusak seperti saus tomat busuk. Penelitian khusus terhadap manusia tentang pemakaian pengawet berlebihan memang belum ada. Tapi bukan berarti makanan berpengawet relatif besar aman untuk dikonsumsi. Banyak pakar kesehatan yang berasumsi, pengawet berlebihan akan ,emi,bulkan gangguan pada tubuh, misalnya menjadi salah satu pemicu penyakit kangker.
Belum Tentu Berkuman
Menurut pakar gizi, berdasarkan pengamatan pada tempat-tempat pembuatan saus tomat usaha rumah tangga, ada yang tidak memenuhi syarat, misalnya jorok. Mulai dari bahan hingga cara pembuatan kurang sesuai dengan aturan higienitas makanan. Secara teori keadaan itu akan menjadi media pertumbuhan microba termasuk yang bakal mencetuskan penyakit (patogen)
tapi kenyataannya, saus tomat yang mengandung microba termasuk patogen sangat jarang. Walaupun jorok tapi dengan adanya pengawet utamanya asam benzoat, umumnya bisa membunuh microba. Mikroba yang baru masuk pun sulit untuk tumbuh dengan baik. Apalagi bila pengawet ditambahkan dengan sulfur diosida, kemungkinan mikroba berkembang biak akan mengecil.
Meski begitu, bukan berarti saus tomat bebas kuman seratus persen. Tetap saja kemungkinan ada kuman bercongkol, sehingga menimbulkan masalah, misalnya sakit perut. Sakit perut seperti diare bisa pula disebabkan oleh bahan penguat rasa di dalam saus tomat, misalnya rasa pedas.
Para pakar gizi mengungkapkan tidak semua orang tahan dengan rasa pedas yang ada di saus tomat. Tingkat kepekaan rasa pedas setiap orang berbeda, sehingga bila hendak menggunakan saus tomat sebaiknya ukur dulu kemampuan pencernaan. Bila tidak terbiasa makan pedas jangan tuang banyak-banyak kepiring.
Bagaimanapun, saus tomat sudah menjadi bagian dari makanan di negara kita. Sulit atau hampir tak mungkin dihindarkan. Yang perlu dilakukan sekarang adalah penyuluhan agar para produsen menghindari pemakaian pengawet yang berlebihan




0 komentar:
Posting Komentar