Plastik busa yang lazim dipakai sebagai tatakan kemasan bahan pangan dan pelindung barang elektronik belakangan semakin sering digunakan untuk wadah makanan dan minuman. Padahal bahan penyusunnya bersifat racun sehingga bisa mencemari makanan atau minuman. Apalagi kalau hidangan itu dikemas panas-panas! Seperti yang dipaparkan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) bahan ini bisa merangsang tumbuhnya sel tumor dan kanker serta potensial mengakibatkan cacat lahir.
Pada peringatan Hali Lingkungan Sedunia, 5 Juni 1993 lalu, sejumlah pemuda mendatangi salah satu restoran fastfood di bilangan Jl. Thamrin, Jakarta. Mereka ternyata tidak sekedar membeli humberger, tetapi sekaligus berkampanye demi lingkungan.
Setelah memesan makanan dan minuman, mereka minta pramusaji memindahkan makanan dari kemasan plastik busa yang disediakan pihak restoran ke dalam karton atau gelas kaca yang mereka bawa sendiri. Sedang kepada pengunjung lain para pemuda itu menyebarkan selebaran dengan pesan "Awas, bahaya Styrofoam".
Banyak Jenis Plastik
Styrofoam hanya salah satu dari puluhan, bahkan ratusan jenis plastik. Orang awam memang sulit membedakan berjenis-jenis plastik, meskipun barang ini begitu gampang ditemukan disekitar kita. Mulai dari sikat gigi, ember, gantungan baju, kabinet, peralatan dapur, sisir, tutup kaset, sampai kantung plastik. Tahukah anda kalau benda benda ini terbuat dari bahan plastik yang berbeda-beda?
PLastik merupakan hasil dari proses pencampuran bahan kimia organik yang berasal dari minyak bumi, batu bara, atau gas alam. Sebagai suatu bahan, plasti memang memiliki keistimewaan. Ia mudah dibentuk menjadi serat, lembaran, maupun padatan. Selain kuat dan awet, harganya pun relatif murah
Lantas bagaimana kita bisa membedakan berbagai jenis plastik? Bergantung pada bahan dasar-nya, yang secara umum disebut monomer. Untuk membentuk plastik, monomer-monomer ini diproses menjadi rantai-rantai panjang yang disebut polimer. Untuk menghasilkan plasstik mentah - dikenal sebagai resin - polimer ini ditambah dengan berbagai bahan kimia lain. Baik sebagai pengisi, pelentur, pewarna, peliat, maupun pelumas. Perbedaan kombinasi jenis dan jumlah polimer serta bahan tambahan (aditif) inilah yang membedakan karakter dan jenis plastik yang dihasilkan.
Perkembangan plastik sendiri dimulai sejak akhir abad XIX. Yang dianggap berhasil mengembangkannya secara komersial adalah John W. Hyatt, seorang ilmuwan AS. Pada tahun 1968 John berhasil menciptakan bahan pembuat bola biliat, sisir, dan pengisi kerah baju dari campuran serat (selulosa), asam nitrat, dan kamper. Bahan ini oleh Perusahaan Eastman Kodak pada tahun 1884 dikembangkan menjadi pita seluloid, yang kini dikenal sebagai bahan dasar pita film dan foto.
Beberapa tahun kemudian tapatnya pada tahun 1909, plastik sintetis berbahan dasar polimer organik ditemukan oleh Leo H. Baekland. Pada tahun 1930-an setelah teori makromolekuler yang mampu menjelaskan susunan molekul polimer berkembang, teknologi plastik berkembang pulsa dengan pesat. Tak ketinggalan pada tahun 1935 tim peneliti Perusahaan Du Pont menemukan nilon.
Disusul penemuan jenis plastik lain oleh berbagai pihak. Misalnya akrilik, teflon, melamin, saran, formika sampai plastik busa atau styrofoam yang di proses itu. Semua sebutan itu merupakan istilah umum dari berjenis-jenis plastik yang berbeda bahan dasar.
Monomer plastik yang peling banyak dikenal saat ini diantaranya vinil klorida, stirena, etilena, propilena, formaldehida, akrilida dan beberapa jenis lain. Hasil penggabungan monomer, yang dikenal sebagai polimer dan merupakan bahan dasar utama plastik diberi nama sesuai monomer-nya setelah ditambahi kata "poli". Diantaranya polivinil klorida, polietilena, polistirena, polipropilena. Ringkasnya, plastik adalah campuran polimer dengan beberapa bahan tambahan.
Keluarga besar plastik ini memang sangat banyak anggotanya. Masing-masing memliki karakter dan kugunaan berbeda-beda. Dari sekian jenis yang dianggap terpenting dan paling banyak digunakan saat ini ada sekitar 25 jenis. Selain nama dagang, plastik juga memiliki sebutan teknis yang baku, dengan penyingkatan bahan dasar polimernya. Misaknya teflon nama teknisnya adalah politetrafluorethylene (TFE). Teflon sekarang dipakai sebagai pelapis peralatan dapur. Sedangkan nilon, punya nama teknis polyamide (PA). Kita tahu nilon banyak digunakan dalam bentuk serat, untuk tekstil dan benang. Plastik saran, sebenarnya adalah polyvinilidene cloride (PVDC), banyak dipakai untuk kantung. Polyethylene (PE) banyak dipakai untuk peralatan rumah tangga seperti ember, panci, kursi, selain untuk kantong plastik.
Bagaimana dengan styrofoam?
Istilah teknis Styrofoam adalah foamed polysterene (FPS). Bahan dasarnya adalah polistirena, yang merupakan plastik sangat ringan, kaku, tembus cahaya, dan murah. Hanya saja kelemahannya adalah sifat yang rapuh.
Untuk menambah kekuatannya dicampurkan dengan senyawa butadiena yang merupakan karet sintetis. Penambahan butadenia inilah yang menyebabkan polistrena tidak jernih lagi dan berubah warna menjadi putih susu. Selain itu, untuk meningkatkan kelenturannya ditambahkan juga zat plasticiser seperti dioktilplalat (DOP) butil hidroksi toluena (BHT) atau n-butil slearat.
Sedangkan istilah foamed berasal dari proses pembuatannya, yang salah satu tahapnya adalah peniupan, untuk membentuk struktur sel. Dalam proses peniupan ini digunakan gas chlorofluorocarbon (CFC). Hasilnya, ya seperti yang bisa kita lihat sekarang ini: plastik busa dalam berbagai bentuk dan penggunaan. Warnanya putih susu dan ringan
Migrasi zat racun
Lalu dimana duduk soalnya hingga pemakaian styrofoam diprotes banyak kalangan?
Ada dua masalah.
Pertama pada bahan untuk membuat plastik busa itu sendiri.
Kedua adalah pemakaian gas CFC dalam proses pembuatannya.
Pada yang pertama adalah kemungkinan terjadinya perpindahan alias migrasi monomer-monomer stirena kemasan plastik busa kedalam makanan atau minuman yang ada didalamnya. Persoalannya, menurut berbagai penelitian yang dilakukan sejak 1930-an , bukan sekedar terjadinya migrasi monomer ini. Yang penting adalah akibatnya karena monomer bersifat toksik.
Vinil klorida dan vinil sianida, misalnya mengakibatkan perubahan genetik pada microba. Akrilonitril menimbulkan tumor dan cacat lahir pada tikus. Stirena, yang merupakan bahan dasar styrofoam, juga bersifat mutagenik (mampu mengubah gen) dan potensial karsinogen (merangsang tumbuhnya sel kanker). beberapa jenis tumor kulit hewan juga ditemukan akibat stirena.
Pada plastik busa risikonya bahkan lebih besar lagi, karena bahan aditif yang dipakai pun diketahui berbahaya. Butadiena sebagai bahan penguat, maupun DOP atau BHT sebagai plasticiser, keduanya karsinogenik. Suatu penelitian lain juga menunjukkan DOP merusak testis hewan percobaan dan menimbulkan kemandulan.
Migrasi itu sendiri dapat terjadi karena monomer-monomer plastik, khususnya stirena, larut dalam air, lemak, alkohol, maupun asam. Waktu pendadahan dan suhu juga mempengaruhi. Makin lama makanan atau minuman kontak dengan permukaan plastik dan makin tinggi suhunya migrasi zat racun dalam plastik akan makin meningkat. Apalagi bila makanan atau minuman itu banyak mengandung lemak atau minyak. Begitu juga dengan plasticiser yang digunakan dalam plastik.
Celakanya, efek racun itu tidaklah langsung terlihat. Sifatnya akumulatif dan dalam jangka waktu yang panjang baru timbul akibatnya. Hingga sering melenakan perhatian kita terhadap bahayanya. Karena adanya resiko berbahaya itu, maka negara-negara maju dibuat berbagai peraturan mengenai zat pembuat bahan pengemas, terutama yang dipakai untuk makanan dan minuman. Pengemas harus memenuhi syarat maksimum jumlah migrasi yang diizinkan
Di Eropa migrasi plasticiser yang diizinkan maksimm adalah 60mg/kg makanan. Demikian pula migrasi monomernya dibatasi secara ketat. Inggris menetapkan batas migrasi vinil klorida dalam makanan maksimum 0,1 mg/kg. Jenis polimer dan bahan aditif yang boleh digunakan pun dibatasi. Di Amerika Serikat, misalnya segala jenis pengemas plastik yang terbuat dari vinil klorida (PVC) dilarang digunakan untuk mengemas susu ataupun olahannya dan juga minuman tingan bergas CO2
Setiap negara memiliki ketetapan yang agak berbeda, meskipun mereka semuanya merujuk pada standart internasional dari badan PBB, yaitu Codex Alimentarius Comission. Sementara negara-negara yang belum memiliki ketentuan seperti hanlnya Indonesia, bisa mengacu pada Codex.
Selain faktor-faktor diatas jumlah komposisi masing-masing bahan plastik polimer dan aditifnya, juga mempengaruhi besar-kecilnya migrasi. bagaimana dengan yang terjadi pada styrofoam?
Sejauh ini saya sendiri belum menemukan literatur khusus yang membahas teentang ini. Kemungkinan besar, karena pemakaian Styrofoam untuk pengemas makanan sebenarnya tidak lazim. Kecuali untuk bahan mentah, seperti telur, daging, sayur atau buah. Itu pun biasanya cuma terbatas sebagai tatakan. Penggunaan styrofoam yang paling lazim adalah untuk bahan pelindung dan penahan getaran bagi barang-barang yang fragile, seperti barang elektronik.
Yang pasti, sebagaimana telah dijelaskan baik monomernya (stirena) maupun aditif utama styrofoam (DOP dan butadiena) sama-sama mudah bermigrasi dan sangat berbahaya....!!!